Selasa, 17 April 2012

APKLO dan Kopi Lintong di Pasar Dunia

Kopi lintong, tidak hanya dikenal di Sumatera Utara (Sumut) saja tapi juga di pasar internasional. Bahkan kopi ini sudah terkenal sejak ratusan tahun lalu. Menurut kabar-kabarnya, masyarakat Lintong (Kecamatan Lintongnihuta) Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) sudah mulai bertanam kopi sejak  tahun 1600 an. Saat itu masa penjajahan Belanda dan kopi pertama yang masuk ke Lintongnihuta adalah kopi Lasuna yang dibawa oleh Belanda.

Semakin lama kopi Lasuna semakin banyak ditanami warga Lintong sekitarnya, dan menjadi tanaman kedua setelah tanaman padi. Tapi, sejak lima tahun terakhir produksi kopi menyusut.
Hingga tahun 1985, kopi Lasuna masih menjadi kopi yang paling banyak ditanam masyarakat. Hingga kemudian datang verietas baru yakni varietas jember yang berasal dari Pusat Penelitian Kopi di Jember, Jawa Timur. Varietas jember tidak bertahan lama dan hanya sedikit ditanam warga karena bentuk dan sifatnya yang tidak jauh berbeda dengan kopi Lasuna. Bahkan kopi jember dinilai lebih rendah produksi, kualitas serta ketahanan batangnya dibandingkan kopi Lasuna.
 
Setelah kedatangan kopi jember, masuk lagi varietas baru yang tidak diketahui jelas darimana asalnya. Kopi baru ini dikenal dengan istilah kopi sigarar utang (sibayar utang). Kopi ini mulai ramai ditanam masyarakat Lintongnihuta sekitar tahun 1990 an.
Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB di hari Kamis, (21/10), wartawan  bertamu ke rumah Manaor Sihombing di Desa Pargaulan, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Manaor adalah seorang petani yang sudah puluhan tahun bertanam kopi. Selain bertani, dia juga aktif sebagai petugas quality control (pengontrol kualitas) kopi untuk kopi yang akan diekspor oleh Asosiasi Petani Kopi Lintongnihuta Organik (APKLO) ke negara importir (buyer).
 

Kepada MedanBisnis, Manaor menuturkan perkembangan pertanaman kopi sigarar utang di Lintongnihuta. Awalnya, masyarakat Lintong masih enggan meninggalkan kopi Lasuna, namun setelah ada beberapa keluarga yang dinilai berhasil menanam kopi sigarar utang, masyarakat mulai berbondong-bondong menanam jenis kopi tersebut yang juga dikenal dengan sebutan kopi ateng.

Disebut kopi ateng karena ukuran batangnya yang pendek dan daunnya yang lebat saat musim berbuah pertama. Dan, disebut kopi sigarar utang karena masa produksi buah yang sangat cepat yakni hanya butuh 1,5 tahun untuk panen pertamanya. Kopi ateng adalah kopi jenis arabica.

Disebut kopi sigarar utang juga karena saat Indonesia mengalami krisis moneter, warga Lintongnihuta justru tak merasakan bias moneter sedikit pun. Karena hasil kopi saat itu melimpah dan belum ada serangan hama terhadap kopi maupun biji kopi. Sejak saat itu, hingga kini kopi ateng justru lebih santer dikenal dengan sebutan kopi sigarar utang.

Di Lintongnihuta awalnya, para petani kopi masih belum mengerti peluang bisnis yang bisa didapat dari bertanam kopi sigarar utang. Para petani total hanya sebagai petani yang membutuhkan produksi kopi yang banyak untuk dijual dengan harga yang dibuat oleh spekulan waktu itu. 

Tak jarang, petani akan merugi dan spekulan menikmati untung yang jauh lebih besar dari petani itu sendiri. Namun, melihat tingginya produksi kopi ateng ini, para petani di Lintongnihuta yang awalnya menjadikan tanaman kopi ini sebagai komoditas kedua setelah padi, akhirnya hampir 99% warga Lintongnihuta bertanam kopi dan menjadikannya sebagai tanaman utama.

Untuk pasar sendiri, menurut Manaor, informasi tentang pasar kopi dunia mulai diketahui sekitar tahun 2003. Pada saat itu, dibentuklah Asosiasi Petani Kopi Lintongnihuta Organik (APKLO) dengan motto dari petani dan untuk petani.

APKLO pada awal berdirinya terdiri dari 385 kepala keluarga (KK) petani kopi. Awalnya, APKLO berdiri di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), saat itu Humbahas belum menjadi kabupaten pemekaran sehingga anggota yang tergabung di APKLO tidak hanya petani yang berasal dari Lintongnihuta saja, tapi hampir setengahnya dari daerah sekitar Lintongnihuta.

Ketika Humbahas pisah dari Taput, dan Lintongnihuta menjadi salah satu kecamatan, setengah anggota yang berasal dari desa yang masih tetap di Taput memilih keluar dari APKLO. Akhirnya dari 385 anggota APKLO tinggal 185 KK saja.

Para anggota yang tergabung dalam APKLO memiliki kebun kopi sekira satu hektare per keluarga. Rata-rata satu hektare lahan ditanami 800 batang kopi,dengan jumlah produksi berkisar 1,5 kg per batang pada setiap musim panen. Jadi, dari 185 hektare luas lahan kopi, bisa ditanami sekitar 148.000  batang kopi dengan jumlah produksi setiap musim panen sebanyak 22.200 kg atau 22,2 ton.

Dengan kualitas kopi ateng yang memiliki dua musim panen dalam satu tahun, maka APKLO mampu memproduksi kopi sebanyak 44,4 ton per tahunnya. APKLO mulai menjajaki pasar dengan negara Jepang dan mulailah terjalin kerja sama di mana Jepang menjadi negara importir (buyer) untuk kopi hasil tani anggota yang tergabung dalam APKLO.

Maka pada tahun 2003, APKLO melakukan ekspor perdananya sebanyak 2 ton ke Jepang. "Saat itu, kopi harganya masih US$ 2,1 per kilogramnya, sejak saat itu hingga sekarang, Jepang masih tetap menjadi negara tujuan ekspor kita," terang Manaor.

APKLO pun menjajaki pasar ke Eropa melalui negara Belanda. Pada tahun 2006, APKLO sudah melakukan ekspor ke Belanda sebanyak 18 ton dengan harga US$ 3,3 waktu itu. Hingga kini, Jepang dan Eropa menjadi negara tujuan ekspor yang dibangun oleh APKLO, meski mereka akui negara-negara Amerika telah kerap melakukan pendekatan kepada APKLO untuk dijadikan mitra ekspor kopi.

Namun tawaran tersebut ditolak dengan alasan ribetnya sistem pasar di negara bagian Amerika.  Kini APKLO telah mengantongi certificate Fertrade Labeling Organization (FLO) dari Belanda. Dan setiap karung yang berisi kopi diberi label FLO sebelum di ekspor.

"Kini, jumlah kopi yang kita ekspor ke Jepang sama banyaknya dengan yang kita kirim ke Belanda, malah kita kewalahan untuk memenuhi kebutuhan buyer dan terpaksa mengurangi jumlah ekspor. Apalagi dengan menyusutnya produksi kopi akibat hama yang telah menyerang kopi lima tahun terakhir ini. Untung buyer mengerti dan memahami kondisi kita," terang Manaor.

Kopi Lintong telah menjelajahi pasar dunia, APKLO telah memulai, namun tak diketahui secara pasti sampai kapan kopi  Lintong ini bertahan. "Tak tahu kita bagaimana nasib kopi Lintong ke depannya, serangan hama kutu kopi telah membuat petani kewalahan, kita hanya bisa tahu kejayaan kopi Lintong dari cerita masa lalu, kemudian fakta saat ini. Namun untuk esok balum pasti. Apakah Kopi Lintong tinggal nama saja?" ujar Manaor sedih memikirkan masa depan kopi Lintong. (mb/karmawan silaban)

Tiga Pemkab Masih Subsidi Bandara Silangit
HD– Tapanuli Utara.
Pesawat Jenis 737 Seri 500 Di Bandara Silangit

Bandara Silangit menjadi bandara internasional, dari sisi ekonomisnya belum layak menjadi bandara internasional. Pasalnya, hingga sekarang penumpangnya masih minum bahkan masih tetap disubsidi oleh tiga Pemkab, yakni Pemkab Tapanuli Utara, Pemkab Humbang Hasundutan dan Pemkab Toba Samosir.

“Soal besaran subsidi saya tidak mengetahuinya, silakan ditanya pihak maskapai penerbangan air lines. Tugas kami hanya sebatas memfasilitasi dan melakukan pemeliharaan landasan, terminal, parkir atau yang menyangkut infrastruktur bandara ini,” kata Kepala Bandara Silangit, Poltak Gordon Siburian kepada wartawan , Sabtu (14/4).

Gordon menjelaskan, peningkatan Bandara Silangit menjadi bandara internasional harus memenuhi beberapa aspek, di antaranya landasan pacu dan sarana infrastruktur lainnya. Dan, itu membutuhkan biaya yang besar. “Kalau kondisi jumlah penumpang saat ini, jelas masih merugi, namun inikan milik pemerintah,” katanya. (MB/ck 10)

Sabtu, 14 April 2012

72 Orang Tenaga Horoner Kategori I Humbahas Lulus CPNS


72 Orang Tenaga Horoner Kategori I Humbahas Lulus CPNS
HD -Doloksanggul
            Dari 92 orang tenaga honorer Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas) pengangkatan tahun 2003-2005 yang diusulkan BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Humbahas, pada tahun 2010, sebanyak 72 orang dinyatakan lulus verifikasi dan validasi oleh BKN (Badan Kepegawaian Negara), dan BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) pusat untuk diangkat jadi CPNS.
            Hal tersebut diungkapkan Kepala BKD Humbahas Drs Laurencius Sibarani di ruang kerjanya, Senin (9/5). “Sesuai dengan pengumuman yang dikeluarkan Bupati Humbahas yang ditandatangani Sekda Martuaman Silalahi, tertanggal 5 April 2012, dengan Nomor : 800/2140/BKD/2012, sebanyak 72 orang dinyatakan lulus verifikasi dan validasi oleh BKN dan BPKP pusat.”, kata Laurencius.
            Laurencius mengatakan, proses tindak lanjut terhadap tenaga honorer yang memenuhi kriteria berdasarkan PP No 48 Tahun 2005 jo PP No 43 Tahun 2007 untuk diangkat menjadi CPNS masih menunggu petunjuk dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Republik Indonesia. “Kalau mengenai tindak lanjutnya, kita masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat”, ujarya.
            Adapun nama-nama yang lulus verifikasi dan validasi tersebut dibagi dalam dua kelompok yakni, pertama, kelompok guru yaitu, 1. Antonius Barutu, 2. Kristina E Purba, 3. Manumpak Tumanggor, 4. Ocimonika Lumbangtobing, 5. Pine Siburian, 6. Pinondang Hutagalung, 7. Ramauli Pandiangan, 8. Redisma Barutu, 9. Rinta Nurhayati Maharadja, 10. Sondang Munte, 11. Togi Purba, 12. Arifin Hasugian, 13. Arta Manalu, 14. Cahaya Sinaga, 15. Emmi Sihite, 16. Herlina Tampubolon, 17. Hotmider Simanullang, 18. Japeren Purba, 19. Jonni Sitohang, 20. Irwanto A, 21. Lamria Dame Sihotang, 22. Marinata Sihaloho, 23. Syahril Kamal Alpandi, 24. Katarina Situmorang.
            Kelompok ke dua, kelompok tenaga teknis/administrasi lainnya, yaitu 25. Aller Sitompul, 26. Banier Bahulea, 27. Bantu Simamora, 28. Desman T Banjarnahor, 29. Dohar Nainggolan, 30. Hotma Mangapuli Simanullang, 31. Jerbiden Marbun, 32. Jimot Purba, 33. Pantun Purba, 34. Desku Napitupulu, 35. Jasmawet Simamora, 36. Marihot Maharaja, 37. Martua Serasih Simamora, 38. Sanggup Solin, 39. Jekson Tardeli, 40. Jeremia Pangihutan Manalu, 41. Rinto Afandi Simanullang, 42. Roganda Manaek Pasaribu, 43. Lusiana Silaban, 44. Estina Manullang, 45. Rolan Maruli Siregar.
            46. Rawati Situmorang, 47. Budi Sinambela, 48. Dudut Iwantoro, 49. Hendika Juara Monang Manullang, 50. Maju Pardamean Manullang, 51. Melfa Manullang, 52. Miston Saut Martua Singa, 53. Nora Herawati Tampubolon, 54. Saut Horas Situmorang, 55. Tohap Nauli Simanullang, 56. Bangun S Lumbangtobing, 57. Imelda Naibaho, 58. Kalara Debataraja, 59. Teresia Adelina Purba, 60. Harpanus Nainggolan, 61. Nelson Simamora, 62. Bolandi Manalu, 63. Hotmartua Simamora, 64. Ipong Naibaho, 65. Irwanto Elvendy Simbolon, 66. Jonni Simanullang, 67. Manosar Hotmaringan Purba, 68. Rosmita Situmorang, 69. Themercys Simanullang, 70. Gunung G Silitonga, 71. Marta Yalentina Silaban, 72. Mangiring Pardede.
            Dengan adanya pengumuman tersebut, lanjut Laurencius, dia berharap kiranya setelah nantinya diangkat menjadi CPNS, benar-benar menambah motivasi untuk melaksanakan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya di Kabupaten Humbahas.  “Mudah-mudahan pengumuman ini menjadi motivasi dalam melaksanakan tugas dengan baik. Bukan sebaliknya, setelah dingkat jangan jadi malas bekerja”, harapnya.
            Untuk informasi yang lebih lanjut dan lebih jelas mengenai hasil pengumuman tersebut, lanjutnya, agar melihat pengumuman yang telah ditempelkan pihak BKD Humbahas di papan pengumuman di depan kantor terkait. (int/car/f.J)


Jumat, 13 April 2012

Pemkab Humbahas Sosialisasikan Perda Retribusi Galian C

Pemkab Humbahas Sosialisasikan Perda Retribusi Galian C

HD– Lintongnihuta.

Tim terpadu Pemkab Humbang Hasundutan (Humbahas) melakukan sosialisasi Perda No 25 tahun 2005 tentang Galian C. Sosialisasi Perda ini dilakukan agar masyarakat terutama kalangan pengusaha yang menggeluti bisnis penambangan galian golongan C dapat sadar akan kewajiban yang harus mereka bayar kepada pemerintah daerah.Demikian dikatakan Kadis Dinas endapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Humbahas, Bona Santo Sitinjak SE, Selasa (10/4), di sela-sela pelaksanaan sosialisasi di Pos Kehutanan Desa Nagasaribu, Kecamatan Lintongnihuta.

Lebih lanjut Bona Santo mengatakan, tindak lanjut dari sosialisasi Perda itu, dilakukan langsung dilapangan. Diturunkannya personil ke lapangan ini untuk mengetahui secara pasti berapa besar potensi pajak dan retribusi yang bisa didapat dari sektor ini dengan mengetahui besarnya volume galian C yang bisa dikeluarkan.

Menyinggung tentang target PAD dari sektor galian C ini, Bona Santo menjelaskan pihaknya memang belum menentukan berapa besar target yang bisa didapat, karena saat ini pihaknya masih melihat potensinya terlebih dahulu.

“Namun kita yakin jika Perda ini bisa berjalan efektif maka potensi PAD yang bias didapat dari sector Galian C ini cukup besar. Karenanya dalam waktu dekat ini kita akan menurunkan tim ke lapangan untuk melihat berapa besar potensi Galian C yang ada di Humbahas,” katanya.

Sementara Kakan Tambang Ir N Sigalingging, menyatakan, sebelum adanya Perda ini, petugas pos tidak pernah mempertayakan kepada pengemudi truk angkutan apakah muatan truk tersebut memiliki dokumen izin galian C atau tidak, sehingga potensi PAD dari sektor ini masih sangat minim bahkan nihil. “Namun kedepan dengan adanya Perda Galian C ini, potensi PAD dari sector ini bisa didapat,” katanya.

Asisten Pemerintahan Humbahas Drs Tonny Sihombing, MIP mengatakan, tujuan sosialisasi Perda ini semata untuk memberikan pengarahan dan pedoman dalam pelaksanaan pengambilan hasil bumi yang berhubungan langsung dengan Peraturan Daerah (Perda), agar pengusaha galian C dapat mengetahuinya secara baik dan benar.

Diharapkan melalui sosialisasi Perda itu, para pengusaha bisa mengetahui ketentuan dalam menjalankan usaha, mulai dari mengurus izin pendirian usaha, hingga prosedur pelaksanaan usaha yang ditekuninya, agar tercapai iklim usaha yang baik.

Hadir dalam kegiatan sosialisasi itu, Asisten I Pemerintaahan Humbahas, Drs Tonny Sihombing MIP, Bonasanto Sitinjak, SE (Kepala DPPKD), Mangupar Manullang Sm.Hk (Kakan Tibum), Kakan Pemdes EZ Simanungkalit, Humas Pemkab Humbahas Alfonsius Tinambunan dan unsur Dinas Perhubungan dan Dinas Kehutanan Humbahas. (MB/ck10)

PT TPL Diduga Lakukan Aktivitas Galian C di Humbahas

PT TPL Diduga Lakukan Aktivitas Galian C di Humbahas
 
HD– Doloksanggul.  
 PT Toba Pulp Lestari (TPL) diduga telah melakukan aktivitas pertambangan liar di lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI) milik perusahaan itu di wilayah Kabupaten Humbahas. Hal itu terbukti dengan ditemukannya sejumlah lokasi pertambangan Galian C di lokasi HTI. Pertambangan liar ini pun telah mengakibatkan kerusakan cagar alam, dan negara dirugikan ratusan juta karena diduga tidak memiliki izin penambangan.
 
Kepala Kantor Pertambangan Humbahas, Ir N Sigalingging yang dikonfirmasi  wartawan melalui telepon selulernya, Rabu (11/4), mengakui jika PT TPL ada melakukan usaha pertambangan Galian C di lokasi HTI-nya. Namun, menurut Sigalingging, perusahaan itu ada berkontribusi berupa penyetoran retribusi galian golongan C sebesar Rp 300 juta ke kas Pemkab Humbahas melalui kontraktor (pihak ketiga) yang ditunjuk PT TPL.
 
“Penambangan yang dilakukan oleh kontraktor PT TPL dengan menggunakan alat berat itu ada izinnya. Tidak mungkinlah mereka (pihak kontraktor –red) melakukan galian tanpa ada izin, soal berapa volume galian, itu dapat diketahui  melalui buku laporan pihak kontraktor, jadi tidak mungkin ada melakukan penipuan dari jumlah volume galiannya,” jelas Sigalingging singkat.

Sementara itu, Kadis Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKAD) Humbahas melalui Kabid Pendapatan Henry Sihite menyebutkan, realisasi retribusi  galian golongan C dari pihak PT TPL tidak ada. “Tapi yang mengetahui  secara pasti itu pihak kehutanan, jadi silahkan tanya kepada pihak Kehutanan Humbahas. Mereka yang mengetahui ini persis, namun  sepengetahuan kami kontribusinya tidak ada,” katanya.

Kadis Kehutanan Humbahas Ir Marco Panggabean, yang dikonfirmasi melalui ponsel
selulernya, Rabu (11/04), kepada wartawan  mengatakan, bahwa Dinas Kehutanan hingga saat ini belum ada mengeluarkan izin pertambangan Galian C bagi PT TPL.

“Beberapa waktu lalu memang ada mereka mengajukan izin pertambangan. Usulan lokasinya berada di koari XI HTI PT TPL, namun tidak kita setujui karena berdasarkan tinjauan teknis yang dilakukan tim ke lapangan, penggalian di lokasi itu berpotensi merusak lingkungan,” katanya. 

Namun, sebut Marco, bila berikutnya ada pengalian yang dilakukan pihak PT TPL di koari III (tiga), pihak kehutanan tidak mengetahuinya karena belum pernah diusulkan. Pihaknya juga hingga kini belum mengetahui apakah lokasi penggalian itu ada di areal yang datar atau memiliki kemiringan (jurang-red). “Karena tidak ada izinnya jelas kegiatan pertambangan itu sudah melanggar aturan dan peraturan yang berlaku sebagaimana yang diatur dalam Inpres No 10 tahun 2011 tentang usaha pertambangan di kawasan hutan,” katanya. (MB/ck 10)

Selasa, 03 April 2012

Kopi Lintong Tetap Akan Eksis, Melalui Pengembangan Klaster Kopi

Petani Kopi Lintongnihuta

Kopi Lintong Tetap Akan Eksis, Melalui Pengembangan Klaster Kopi

              Kopi Pertama kali ditemukan diantara pertanaman kopi yang ditanam Opung Sopan Bor Siregardi desa Batu Gajah, Paranginan, Lintong Nihuta , Humbang Hasundutan (1400 m dpl) pada tahun 1988. Pada saat ini tinggal 3 pohon yang masih hidup . Berdasarkan karakter morfologi pada keturunan segregasinya, diduga merupakan keturunan persilangan alami antara varietas typical BLP dengan Catimor yang ada di sekitar pertanaman tersebut, tentu Type Pertumbuhan  Habitus Semi Katai, seluruh tajuk daun merupakan batang pohon hingga ke permukaan tanah.
              Diameter tajuk 230 cm.Sifat Percabangan Percabanagn sekunder sangat aktif bahkan pada cabang primer diatas permukaan tanah membentuk kipas berjuntai menyentuh tanah, dengan Panjang cabang primer rata rata mencapai 123 cm, ruas cabang pendek pendek.Daun  Daun tua berwarna hijau tua, daun muda (flush) berwarna coklat Kemerahan , Bentuk dan Helaian Daun , apabila ditanam tanpa penaung tepi daun bergelombang dan helaian mengatup keatas, sehingga sepintas bentuk daun oval meruncing ramping. Dalam kondisi normal ada penaung, berwarna daun berbentuk oval datar memanjang dan hijau sangat tua.
                Bunga  kopi dengan ciri berbentuk seperti lazimnya bunga kopi arabika, masa pembungaan dapat terus menerus sepanjang tahun sesuai sebaran hujan di sumatera Utara yang hanya berhenti pada saat puncak kemarau (agustus) buah muda berwarna hijau bersih , sedangkan buah masak berwarna merah cerah, bentuk buah oval, dompolan buah kurang raoat, tetapi ukuran buah cukup besar. Berat 100 buah masak merah rata rata  196 gr biji berbentuk bulat memanjang , termasuk berukuran besar berate 100 butir biji 20,4 g dgn rendemen 17,5 % . Persentase biji normsl 83 % dengan potensi  produksi rata rata 1500 kg kopi biji/ha dengan kisaran 800-2300 kg biji /ha, untuk penanaman dengan populasi 1600 pohon/ha.
              Kopi Lintong dengan ciri khas untuk ketahanan terhadap HPT Agak tahan terhadap penyakit karat daun , agak rentan serangan bubuk buah kopi, dan rentan serangan nematode Radopholus similis , ternyata kopi Humbang Hasundutan mimiliki umur ekonomis  20 tahun pada kondisi lingkungan wilayah Sumatera Utara, terutama bila ditanam pada ketinggian tempat diatas 1000 m dpl, type iklim A, B, C (menurut klassifikasi Schmidt dan Fergusson) dengan pola sebaran hujan merata sepanjang tahun, sudah tentu kopi Lintong memiliki cita rasa baik
Potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan salah satu daerah yang berada di Jajaran Bukit Barisan bagian tengah Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara secara Geografis terletak  pada 2° 1’ - 2° 28’ Lintang Utara dan 98° 10’ - 98°  58’ Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut, Sebelah Utara  Kabupaten Samosir , sebelah Timur Kabupaten Tapanuli Utara, Sebelah Selatan              Kabupaten Tapanuli Tengah Sebelah Barat  Kabupaten Pakpak Bharat
Kabupaten Humbang Hasundutan yang mempunyai luas wilayah  251.765,93 Ha (termasuk Danau Toba seluas 1.494,91 Ha) dan berdasarkan tofografi keadaan tanah pada umumnya berbukit dan bergelombang dengan selingan dataran dan berada pada ketinggian 330 - 2.075 m dpl, secara administrastif Kabupaten Humbang Hasundutan terdiri dari 10 kecamatan yang terdiri dari 153 desa dan 1 kelurahan dengan  jumlah  penduduk 171.650 jiwa yang terdiri dari 85.344  jiwa laki-laki dan 86.306 jiwa perempuan.
 Masyarakat di Kabupaten Humbang Hasundutan ± 85 % dari jumlah penduduk memiliki mata pencaharian utama dari sektor pertanian dengan komoditas kompetensi inti antara lain  Kopi dan Kemenyan, disamping itu masyarakat bercocok tanam tanaman pangan dan hortikultura.
Dengan visi untuk peningkatan prekonomian masyarakat , yang dijabarkan pada Visi Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan yaitu Humbang Hasundutan menjadi daerah yang mandiri dan sejahtera. Kondisi itu, sudah barang tentu ada kaitannya dengan terciptanya pasar kopi yang yang  jelas,  kompetensi Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi mewujudkan Usaha Ekonomi Masyarakat yang Berdaya Saing Tinggi menuju Daerah yang Mandiri dan Sejahtera.
Sebagai perwujudan dari Visi yang telah ditetapkan, tentu dibutuhkan suatu misi yang jelas yang mampu dilaksanakan oleh segenap elemen yang berhubungan langsung dengan Visi tersebut. Misi yang diemban oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Humbang Hasundutan dalam menunjang pelaksanan Visi tersebut adalah sebagai berikut:Meningkatkan professional SDM industri dan pelaku usaha Mengembangkan Industri Kecil dan Menengah Meningkatkan perlindungan kepada konsumen Mengembangkan kehidupan berkoperasi Mengembangkan usaha kecil dan menengah.
POTENSI PENGEMBANGAN KOPI
Kopi merupakan Salah satu komoditi unggulan di Kabupaten Humbang Hasundutan adalah Kopi. Secara umum kopi ditanam adalah jenis Arabika yang biasanya disebut dengan Kopi Lintong (Lintong coffee). Luas panen pada komoditi ini adalah 7.006,50 Ha dengan produksi sebesar 5.506,30 ton/tahun, dengan rata rata produksi sebesar 7,86 ton/Ha.Kopi Lintong tumbuh subur di 9 (Sembilan ) Kecamatan dari 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Penomena yang terjadi saai ini, untuk tanaman kopi lintong di  Humbahas, terjadi penurunan luas lahan kebun kopi hal itu diakibatkan peralihan lahan kopi menjadi lahan pertanian plawija, hal itu dapat dilihat dari luas panen dan rata-rata produksi kopi , pada tahun tahun 2007 luas panen 9 246,00 hektar dengan produksi 6 461,14 dengan rata-rata produksi 6,99 kw/ha, sedangkan untuk tahun 2008 terdapat luas panen 7.540,00 hektar dengan produksi 6 234,38 ton dengan rata-rata produksi 8,27 Kw per hektar dan pada tahun 2009 luas panen 7.006,50 dengan produksi 5.506,30 dengan rata-rata produksi 7,86 Kw per hektar(sumber Humbahas dalam angka) 
Tabel 1. Luas Panen, Produksi dan rata-rata produksi menurut Kecamatan
No
Kecamatan
Luas Panen (Ha)
Produksi
(ton)
Rata rata Produksi ton/Ha
1
Pakkat
306,00
236,00
7,71
2
Onan Ganjang
936,50
640,50
6,83
3
Sijamapolang
564,00
390,20
6,92
4
Lintongnihuta
1.620,00
1.410,00
8,70
5
Paranginan
987,00
835,50
8,46
6
Doloksanggul
1.485,00
1.120,70
7,55
7
Pollung
709,00
588,50
8,30
8
Parlilitan
180,00
102,00
5,67
9
Tarabintang
-
-
-
10
Baktiraja
219,00
182,80
8,35

Total
7.006,50
5.506,30
7,86
PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
Adapun permasalahan yang sedang dihadapi oleh industri pengolahan kopi dalam pengembangannya untuk klaster kopi adalah ,
              Umumnya petani menndapat informasi pasar berasal dari pedagang atau agen, sedangkan agen mendapatkan informasi harga masih melalui mitra bisnis, maka sangat perlu petani yang tergabung dalam kelompok tani harus difalisitasi agar dapat memasarkan langsung ke pabrik atau ke eksfortir, kendati saat ini pemerintah bersama dengan asosiasi petani kopi seharusnya lebih konsisten dalam mempromosikan kopi lintong memlalui keikut sertaan dalam diplomasi dagang, hal itu bias dilakukan melalui promosi berupa kampanye agar produksi kopi yang dihasilkan jangan sampai didiskreditkan agar keamanan komuditi di tingkat produsen aman dan terjamin.
Bahan Baku Luas lahan tanaman kopi setiap tahunnya berkurang dengan pembukaan areal pemukiman, sehingga mengakibatkan berkurangnya produksi kopi, Kurangnya pengetahuan penanganan pasca panen, sehingga mutu biji kopi sebagai bahan baku pada industri pengolahan kopi rendah.
 Pengolahan kopi masih bersifat tradisonal untuk kebutuhan local,Kurang adanya kemampuan melakukan inovasi dan diversifikasi produk sesuai dengan permintaan pasar domestik maupun internasional.
Dilema yang terjadi saat ini, masih tingginya tarif bea masuk bahan penolong (kemasan 15 persen, gula 40 persen).Rendahnya R & D inovasi dan diversifikasi produk kopi olahan sesuai permintaan pasar domistik dan internasional. Terbatasnya akses pasar internasional, selama ini ekspor produk kopi olahan sebagian besar hanya ditujukan ke pasar lokal tradisional.Adanya pemberlakuan diskriminasi tarif bea masuk di kawasan Uni Eropa terhadap komoditi kopi Indonesia (3,4 persen), sementara negara lain 0 persen.
Pemerintah harus membangun sebuah terobosan baru untuk penanganan pasca panen, agar mendapat perhatian khsusus dari petani  baik itu tekhnik panen agar lebih benar yang nantinya akan lebih menjamin kwalitas mutu panen, hal tersebut akan berpengaruh terhadap kadar air yang dikandung biji kopi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
              Mengingat luasnya lahan kopi milik petani, dipandang perlu alat mesin pengupas kopi , kedepan perlu petani memiliki menegemen usaha tani kopi, untuk meningkatkan produksi kopi , maka sudah pandang perlu fasilitas produksi biji kopi (mesin/peralatan: pengering, pengupas dan sortasi), utamanya ditingkat usaha industri skala kecil dan menegah. Terbatasnya penguasaan teknologi proses pada tahap roasting. Penerapan  GMP, HACCP dan ISO rendah, sehingga mutu produk rendah dan tidak konsisten.
              Dipandang perlu, petani agar melakukan budidaya kopi mengikuti perkembangan jaman sesuai dengan kemajuan teknologi, maka teknologi yang diperlukan petani saat ini adalah, bagaimana mencari bibit yang varietas kopi yang ungggul, teknologi tanam dengan mengunakan alsinta, teknologi pemupukan sfesifikasi lokasi, teknologi pengendalian hama  dan teknologi panen dan pasca panen yang arahnya bersifat pengembangan komuditas. 
              Kondisi yang dihadapi sebagaian masyarakat petani kopi saat ini, masih kurangnnya sub sistim pendukung , baik itu tranfortasi yang berhubungan langsung dengan jalan usaha tani yang menghubungkan pemukiman dengan perladangan, kebutuhan jalan itu, dipergunakan untuk gerobak dan tractor menuju kebun agar lebih memadai . diperlukan peningkatan panjang jalan dan kwalitas jalan minimal sirtu.
              Saat ini, petani kopi masih mengharapkan permodalan yang bersumber dari bank, agar mendapat kemudahan dalam persayaratan pinjaman. Permodalan yang diharapkan masyarakat petani melalui koperasi yang dimiliki petani dan dikelola dengan baik, maka pemerintah diharapkan ada penguatan permodalan untuk koperasi melalui hibah dengan bunga yang relatif murah. Penguatan modal itu didapatkan petani bersumber dari keuangan makro dan lembaga keuangan lainnya.
              Supaya petani kopi mampu menciptakan komuditas unggulan , untuk itu diperlukan adanya penelitian untuk melakukan kajian mencari alternatif dan solusi. Yang akan diterapkan oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) , yang berkaitan dengan layanan konsultasi masalah teknis dan non teknis yang dihadapi petani untuk meningkaktkan pengetahuan dan ketrampilan petani , sehingga singkronisasi antara asosiasi petani kopi dapat berjalan harmonis untuk menjembatani kepentingan petani dengan pemerintah atau stakeholder lainnya.
              Strategi pembangunan kwalitas produk kopi , melalui strategi pengembangan SDM dan SDA dan pengembangan sarana prasarana untuk menciptakan kelembagaan ekonomi petani yang kuat yang memiliki program yang efektif,efesiensi dan berdaya saing. Maka diharapkan dan dipandang perlu ada pengembangan kopi melalui klaster kopi.
Tujuan yang akan dicapai dari pengembangan klaster kopi ini adalah untuk Meningkatnya jumlah kemitraan antara petani, industri dan perdagangan kopi/stake-holders di daerah Kabupaten Humbang Hasundutan dengan membentuk locus (kelompok kemitraan)  Meningkatnya jumlah kegiatan forum komunikasi industri pengolahan kopi, didaerah potensi kopi seperti Workshop Klaster Kopi dan Forum Klaster Kopi.
Meningkatnya mutu produk pengolahan kopi melalui bantuan mesin/peralatan  seperti pada teknologi proses (roasting), teknologi produk (diversifikasi) dan mutu kemasan di Kabupaten Humbang HasundutanMeningkatnya keikutsertaan daerah dalam forum internasional pada Sidang Dewan Kopi Internasional agar dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam ICO; Tersusunnya Standar Nasional Indonesia (SNI) Kopi
Untuk mewujudkan penumbuhan dan pengembangan IKM di Kabupaten Humbang Hasundutan, serta memperkokoh perekonomian masyarakat, perlu dukungan dan komitmen dari semua pihak dalam membina dan mengembangkan IKM agar dapat tumbuh mandiri, berkembang, dan memiliki daya saing global. Kegiatan pembinaan IKM dengan pengembangan Klaster Kopi diharapkan dapat menghasilkan wirausaha IKM yang tangguh , kemitraan antara pengusaha dan pemerintah, produk yang berkualitas yang akan mengisi mata rantai pertumbuhan industri di Kabupaten Humbang Hasundutan.
 Kinerja industri di Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011 cukup signifikan yaitu dengan pertumbuhan industri sebesar 2.04 % dan pertumbuhan industri nasional pada tahun 2011  untuk industri pengolahan non-migas mencapai 6,83 %, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri non-migas sepanjang tahun 2010 yang hanya 5,12%, dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2005.
Kontribusi sektor industri pengolahan non-migas terhadap PDB mencapai 20,92%, merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengansektor-sektor lainnya. Ekspor industri pengolahan non-migas pada tahun 2011 mencapai US$ 122,19 miliar, atau naik sebesar 24,66% dibandingkan tahun 2010. Ekspor industri pengolahan non-migas memberikan kontribusi sebesar 75,42% terhadap total ekspor non-migas, atau 60,01% terhadap total ekspor nasional.Pengembangan industri pengolahan kopi dengan pendekatan klaster sangat tergantung pada efektivitas hubungan antara pemerintah dan dunia usaha (Public-Private partnership) dan keterkaitannya.
Untuk mengefektifkan program pengembangan klaster kopi, maka kerjasama dan koordinasi antara pengusaha kopi dan pemerintah dengan membentuk kelembagaan dengan pola kemitraan perlu melakukan komunikasi secara rutin dan berkesinambungan. Pengembangan Klaster Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai ruang lingkup seperti :
Pada Industri Hulu penggunaan Bibit Klon unggul, Pestisida,Pupuk,Mesin dan Peralatan Pasca Panen,Gula, Pengawet dan Bahan Penolong lainnya, Kemasan Industri Pendukung,Jasa perbankan,Jasa transportasi ,Jasa perhotelan,cafe dan restoran didukung Industri Hilir atau Inti ,Industri Roasted Coffee  (kopi biji),Industri kopi bubuk,Industri Kopi sachet siap seduh
Pengembangan kopi, secara ekonomis pertumbuhan dan produksi tanaman kopi sangat tergantung pada atau dipengaruhi oleh keadaan  iklim  dan  tanah. Kebutuhan pokok lainnya yang tak dapat diabaikan adalah mencari bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit. Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi, suatu hal yang juga penting adalah pemeliharaan, seperti: pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh, dan pemberantasan hama dan penyakit.
Tanaman Kopi

Tanaman Kopi (Coffea brasiliensis sp)
Iklim yang Cocok untuk Tanaman Kopi ,pada kondisi iklim untuk kopi Arabika , Garis lintang 6‐9 °LU sampai 24 °LS,Tinggi tempat 1250 s/d 1.850 m dpl.,Curah hujan 1.500 s/d 2.500 mm/th,Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) 1‐3 bulan,Suhu udara rata‐rata 17‐21° C, sedangkan untuk kopi robusta, pada kondisi garis lintang 20 °LS sampai 20 °LU.,Tinggi tempat 300 s/d 1.500 m dpl,Curah hujan 1.500 s/d 2.500 mm/th. Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan) 1‐3 bulan. Suhu udara rata‐rata 21‐24 °C.
Pohon tanaman kopi tidak tahan terhadap goncangan angin kencang, lebih‐lebih dimusim kemarau. Karena angin itu mempertinggi penguapan air pada permukaan tanah perkebunan. Selain mempertinggi penguapan, angin dapat juga mematahkan dan merebahkan pohon pelindung yang tinggi, sehingga merusakkan tanaman di bawahnya.
Sifat fisik tanah meliputi: tekstur, struktur, air dan udara di dalam tanah. Tanah untuk tanaman kopi berbeda‐beda, menurut keadaan dari mana asal tanaman itu. Pada umumnya tanaman kopi menghendaki tanah yang lapisan atasnya dalam, gembur, subur, banyak mengandung humus, dan permeable, atau dengan kata lain tekstur tanah harus baik. Tanah yang tekstur/strukturnya baik adalah tanah yang berasal dari abu gubung berapi atau yang cukup mengandung pasir. Tanah yang demikian pergiliran udara dan air di dalam tanah berjalan dengan baik. Tanah tidak menghendaki air tanah yang dangkal, karena dapat membusukkan perakaran, sekurang‐kurangnya kedalaman air tanah 3 meter dari permukaannya. Akar tanaman kopi membutuhkanoksigen yang tinggi, yang berarti tanah yang drainasenya kurang baik dan tanah liat berat adalah tidak cocok. Sebab kecuali tanah itu sulit ditembus akar, peredaran air dan udara pun menjadi jelek.
Tanaman kopi menghendaki reksi yang agak asam dengan PH 5,5 ‐ 6,5. Tetapi hasil yang baik sering kali diperoleh pada tanaman yang lebih asam, dengan catatan keadaan fisisnya baik, dengan daun‐daun cukup ion Ca++ untuk fisiologi zat makanan dengan jumlah makanan tanaman yang cukup. Pada tanah yang bereaksi lebih asam, dapat dinetralisasi dengan kapur tohor, atau yang lebih tepat diberikan dalam bentuk pupuk; misalnya serbuk tulang/Ca‐(PO2) + Calsium metaphospat/Ca(PO2).
Dari kebun sendiri, biji diambil dari pohon yang telah diketahui mutunya. Pohon induk yang produksinya cukup tinggi, tahan terhadap nematoda, bubuk buah maupun bubuk batang, atau dengan kata lain yang tahan terhadap hama dan penyakit.
Balai penelitian perkebunan, bersumber dari kebun percobaan yang menghasilkan biji telah teruji keunggulannya. Jenis klon kopi kopi ekselsa (Coffeae exelsa), klon Bgn, kopi arabika kate (Kartika 1 & Kartika 2), kopi jagur (AB 3, USDA 762 dan S 795),  kopi robusta klon BP 961 dan penggunaan tanaman yang masak serentak : Varietas USDA 230731 dan USDA 230762.
              Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Ukuran kematangan buah ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah saat masak penuh dan menjadi kehitam‐hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe).
Kematangan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen senyawa gula di dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendir pada buah yang terlalu masak cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pektin sudah terurai secara alami akibat proses respirasi.
Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara pemetikan, pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak maupun pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak. Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan. Secara racutan (rampasan) merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya pada pemanenan akhir.
Konsumsi kopi dunia dari tahun 2001 s/d 2008 mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2%. Konsumsi kopi dunia tahun 2008 diperkirakan sebesar 7.680,0 ribu ton, terdiri dari kopi Arabica sebesar 4.909,0 ribu ton dan kopi Robusta sebesar sebesar 2.771,0 ribu ton. Kenaikan konsumsi kopi dunia dikarenakan konsumsi kopi dinegara-negara produsen kopi tumbuh sangat cepat, meskipun di negara-negara konsumen juga mengalami kenaikan.
Pertumbuhan konsumsi kopi yang terjadi di negara-negara produsen seiring dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara produsen tersebut yang kebanyakan adalah negara berkembang termasuk Indonesia dan Brazil. Menurut Konsultan International Coffee Organization (ICO) yaitu P & A Marketing International, memperkirakan bahwa pertumbuhan konsumsi kopi global dalam periode 2005 -2015 meningkat 35,5%.
Kecenderungan Yang Akan terjadi Konsumsi kopi dunia dari tahun 2001 s/d 2008 mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2%. Konsumsi kopi dunia tahun 2008 diperkirakan sebesar 7.680,0 ribu ton, terdiri dari kopi Arabica sebesar 4.909,0 ribu ton dan kopi Robusta sebesar sebesar 2.771,0 ribu ton. Kenaikan konsumsi kopi dunia dikarenakan konsumsi kopi dinegara-negara produsen kopi tumbuh sangat cepat, meskipun di negara-negara konsumen juga mengalami kenaikan. Pertumbuhan konsumsi kopi yang terjadi di negara-negara produsen seiring dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara produsen tersebut yang kebanyakan adalah negara berkembang termasuk Indonesia dan Brazil. Menurut Konsultan International Coffee Organization (ICO) yaitu P & A Marketing International, memperkirakan bahwa pertumbuhan konsumsi kopi global dalam periode 2005 -2015 meningkat 35,5%.
Ahli kopi dari Puslit Kopi dan Kakao Jember itu menuturkan bahwa harga ekspor kopi arabika terus membaik, saat ini harganya Rp48.800,00 perkilogram. Peluang dan prospek kopi arabika di pasaran baik skala nasional maupun ekspor sangat menjanjikan, sehingga pengembangan produksi kopi arabika di sejumlah daerah harus didukung sepenuhnya. Data di Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor komoditi kopi naik 27,9% dari US$113,2 juta  menjadi US$282,2 juta pada kuartal I 2011 dibanding periode yang sama di 2010. Sebagian besar tujuan ekspor kopi arabika ke Amerika Serikat seperti gerai kopi Starbucks, Eropa dan Jepang.
              Analisis Terhadap Kecenderungan Yang Telah dan Akan Terjadi Dalam Perkembangan Industri Pengolahan KopiMeningkatnya nilai konsumsi kopi dunia menjadi pendorong bagi industri pengolahan kopi untuk meningkatkan produksinya. Konsumsi kopi Indonesia mengalami kenaikan rata-rata sekitar 3% setiap tahunnya, lebih tinggi dibanding pertumbuhan konsumsi kopi dunia yang rata-rata sekitar 2%. Hal tersebut menjadi peluang bagi industri pengolahan kopi. Namun semakin mahalnya harga input produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, menyebabkan produksi kopi semakin sulit meningkat bahkan bisa jadi produksi kopi menjadi turun, sedangkan untuk meningkatkan produksi, industri pengolahan kopi memerlukan suplai bahan baku yang lebih banyak.
Dampak krisis keuangan dunia dianalisa tidak akan berpengaruh terhadap konsumsi kopi mengingat kecilnya sharing pengeluaran rumah tangga untuk minum kopi. Selama supply kopi tetap terjamin dengan harga yang masih reasanable, maka kemungkinan Pengembangan industri pengolahan kopi akan tetap menarik dan pengaruh krisis financial global tidaklah signifikan.
Pengembangan Klaster  Industri Pengolahan Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai Visi dan arah dalam pengembangan klaster tersebut hingga tahun 2016 adalah ,Visi Klaster Kopi Kabupaten Humbang Hasundutan,“Menjadikan produk kompetensi inti daerah ini menjadi Kopi Daerah yang berdaya saing tinggi dan menjadi icon Kabupaten “
Arah Kebijakan Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi di Humbahas sampai dengan Tahun 2016 memerlukan kajian dan identifikasi permasalahan pada Pengembangan industri pengolahan kopi, Meningkatnya kemitraan antara petani, industri dan perdagangan kopi (stakeholders); Pemberdayaan forum komunikasi industri pengolahan kopi.
Untuk itu, arah kebijakan pengembangan klaster kopi, harusnya memiliki kajian klaster kopi, memiliki kemitraan klaster kopi, pembangunan dan pengembangan klaster kopi dengan ketersediaan persiapan areal , bibit unggul , pupuk dan pestisida , pembangunan pabrik kopi, pembangunan jemuran kopi, pembangunan gudang, Pengadaan Mesin dan Peralatan Industri Pengolahan Kopi, Pengadaan Mesin Vacuum Packaging, Membangun Jaringan Pemasaran Lokal dan Ekspor Kopi, Workshop Klaster Kopi dan Forum Komunikasi Klaster Kopi
Arah Kebijakan Jangka Panjang Industri Pengolahan Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan hingga tahun 2025, dipandang perlu untuk peningkatan produksi biji kopi Arabica. Diversifikasi produk turunan  kopi pada industri pengolahan kopi, serta pengembangan industri berbasis kopi pangan dan non pangan (farmasi) Mengembangkan kelembagaan klaster dan tumbuhnya kemitraan di daerah Memaintain pasar Internasional bagi kopi biji Indonesia dan Penetrasi pasar baru Internasional untuk kopi olahan Indonesia.PengembanganTeknologi Pengolahan Kopi (Machinary) yang dapat menghasilkan kopi dengan cita rasa baik. Peningkatan Produksi dan Mutu biji kopi Robusta dan Arabika
Kedepan , dengan pembangunan klaster kopi itu, agar kompetensi inti daerah Kopi Biji dan Kopi Bubuk yang terintegrasi, serta pengembangan areal tanaman kopi, teknologi mesin pasca panen, teknologi mesin industri pengolahan kopi biji dan kopi bubuk yang terintegrasi dalam sebuah pabrik kopi, serta membangun pemasaran bersama berbasis kemitraan,  inovasi inovasi teknologi mesin diversivikasi produksi turunan kopi biji dan kopi bubuk melalui upaya upaya mewujudkan jejaring agribisnis kopi.
Penumbuhan dan Pengembangan Klaster Kopi ini akan dibangun di Humbahas. Klaster kopi ini akan dikelola oleh beberapa KUB Pedagang Pengumpul, Kelompok Tani, Pengelola  Industri pendukung dan Jaringan Pemasaran kopi, dipandang perlu dan dibutuhkan masyarakat industri pengolahan kopi.diharapkan Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah, KementeriaPerindustrian dan provinsi Sumut untuk memprioritaskan Kegiatan klaster kopi dan memetakan kabupaten Humbahas sebagai pusat pengembangan kopi di Sumut.(karmawan Silaban,Spd/journalist)